10 Maksiat Hati yang Merusak Ibadah, Kutipan Ulama untuk Renungan Modern
Jakarta, 5 Februari 2026 – Dalam era digital yang penuh pencitraan diri, penyakit hati seperti riya’ atau ujub sering kali menggerogoti keikhlasan amal.
Dr. Ipong Hembing Putra mengutip Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dalam bukunya Sullamut Taufiq, yang menjelaskan 10 jenis maksiat hati yang patut diketahui untuk membersihkan jiwa.
Maksiat hati ini bukan sekadar dosa lahiriah, melainkan racun batin yang melebur pahala. Berikut penjelasannya secara ringkas:Riya’ dengan amal kebaikan: Melakukan ibadah demi pujian manusia, padahal hal itu bisa menghapus pahala.
Ujub (membanggakan diri): Merasa ketaatan murni dari usaha sendiri, tanpa mengakui karunia dan hidayah Allah.
Meragukan kesempurnaan Allah: Termasuk merasa aman dari murka-Nya meski dosa melimpah, atau putus asa dari rahmat-Nya.
Takabur (sombong): Menolak kebenaran, menghina orang lain, dan menganggap diri lebih unggul—padahal derajat bisa berubah sewaktu-waktu.Hiqdu (dendam tersembunyi): Menyimpan permusuhan dan mencari celah untuk membalas.
Hasud (iri hati): Membenci nikmat orang lain dan berusaha menghilangkannya.
Menyembut kebaikan sedekah: Mengingatkan penerima atas bantuan, yang justru melebur pahala dan membiasakan dosa.Buruk sangka: Kepada Allah, mukmin saleh, atau mendustakan takdir; kecuali pada orang jahat yang jelas.
Gembira pada maksiat: Senang melihat dosa sendiri atau orang lain, serta ingkar janji.Bakhl dan kikir: Enggan zakat, tamak harta orang lain, atau meremehkan perkara suci.
Menurut Dr. Ipong, pemahaman ini relevan untuk masyarakat urban yang rawan pencitraan sosial media. “Maksiat hati ini mengingatkan kita untuk introspeksi, agar ibadah tak sia-sia,” katanya.
Renungan ini mengajak pembaca merefleksikan diri: apakah amal kita ikhlas atau ternoda riya’? Dengan membersihkan hati, hidup lebih bermakna.
